10 September, 2008

Berbuka Puasa

Berbuka Puasa



1. Waktu Berbuka

Allah telah menjelaskan kepada kita tentang waktu diperbolehkannya berbuka puasa yaitu dengan tenggelamnya matahari, sebagaimana firman-Nya :

ثُمّ أَتِمّواْ الصّيَامَ إِلَى الّليْلِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam” (QS. Al-Baqarah : 187).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menafsirkan ayat tersebut dengan datangnya malam, berlalunya siang, dan tenggelamnya matahari. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda sambil mengisyaratkan tangannya:

إذا أقبل الليل من ها هنا وأدبر النهار من ها هنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم

“Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” (HR. Bukhari no. 1853 dan Muslim no. 1100).

Dan sabdanya yang lain :

إذا رأيتم الليل أقبل من ها هنا فقد أفطر الصائم

“Apabila engkau melihat malam telah tiba dari arah sini, maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka” (HR. Bukhari no. 1839).

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Makna (sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam di atas) adalah puasanya telah selesai sempurna, dan (pada waktu matahari sudah tenggelam dengan sempurna) dia bukan orang yang berpuasa. Maka dengan terbenamnya matahari, habislah waktu siang dan malam pun tiba; dan malam hari bukanlah waktu untuk berpuasa” (Syarah Shahih Muslim 7/210).

Timbul pertanyaan : Bagaimana jika matahari telah tenggelam, namun adzan belum berkumandang (muadzin telat mengumandangkan adzan) Huh

Maka dijawab : Yang menjadi patokan untuk berbuka puasa adalah tenggelamnya matahari. Hal ini sesuai dengan dalil di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta amalan para shahabat sebagaimana telah disebutkan. Maka selayaknya bagi kaum muslimin menyegerakan berbuka puasa setelah melihat matahari benar-benar telah tenggelam. Dan bagi muadzin, hendaknya selalu menjaga amanah untuk mengumandangkan adzan pada awal waktunya.

2. Menyegerakan Berbuka Puasa

a. Menyegerakan berbuka dapat mendatangkan kebaikan

Dari Sahl bin Sa’ad radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Manusia senantiasa berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari no. 1856 dan Muslim no. 1098).

b. Menyegerakan berbuka adalah sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam

Dari Sahl bin Sa’ad ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا تزال أمتى على سنتى ما لم تنتظر بفطرها النجوم

“Umatku senantiasa berada di atas sunnahku, selagi mereka tidak menunggu munculnya bintang ketika berbuka puasa” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2061 dan Ibnu Hibban no. 3510 dengan sanad shahih. Lihat Ta’liq ‘alaa Shahih Ibni Khuzaimah).

c. Menyegerakan berbuka puasa agar tidak termasuk golongan orang-orang yang sesat

Apabila manusia menjalani manhaj dan memelihara sunnah Rasul mereka, maka Islam akan tetap jaya dan berdiri kokoh serta tidak akan disusahkan oleh umat-umat yang menentang mereka. Ummat Islam tidak mau mengekor kaum kafir dari golongan Yahudi dan Nasharani, yang mereka ini dicap oleh Allah dan Rasulnya sebagai kaum yang sesat. Dengan menyegerakan berbuka, berarti kita telah turut mengokohkan agama Islam dan menyelisihi sebagian dari adat dan kebiasaan mereka yang tercela, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لا يزال الدين ظاهرا ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون

“Agama senantiasa kokoh selama manusia menyegerakan berbuka; karena Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya (menundanya)” (HR. Abu Dawud no. 2353; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykatul-Mashaabih 1/339).

d. Berbuka sebelum shalat maghrib

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa sebelum melaksanakan shalat maghrib sebagaimana dikhabarkan dalam hadits berikut:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan ruthab sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr. Jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air” (HR. Abu Dawud no. 2356 dan lainnya dengan sanad hasan; lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/59 no. 2356 dan Irwaaul-Ghalil 4/45 no. 922).

Maka tidak ragu lagi, bahwa menyegerakan berbuka mempunyai keutamaan yang sangat besar. Dari Abu Darda’ radliyallahu ‘anhu : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ثلاث من أخلاق النبوة : تعجيل الإفطار و تأخير السحور و وضع اليمين على الشمال في الصلاة

“Tiga (perkara) termasuk akhlaq kenabian (yaitu) : menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat” (HR. Thabrani, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihu Jami’ish-Shaghiir 1/583 no. 3038).

3. Apa yang Dimakan Saat Berbuka ?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk mengawali berbuka puasa dengan ruthab. Ruthab adalah kurma yang masih setengah matang, agak sedikit lebih keras (dibandingkan tamr), dan berwarna hijau kecoklatan. Apabila tidak ada ruthab, maka dianjurkan memakan tamr (= kurma yang biasa dijual di pasaran). Bila tidak ada, maka beliau menganjurkan berbuka dengan air. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya (lihat QS. At-Taubah : 128). Untuk haditsnya, lihat kembali pembahasan di atas.

Makan makanan manis di saat perut kosong itu lebih bermanfaat bagi tubuh, terutama tubuh yang sehat, sehingga kekuatannya dapat pulih kembali. Adapun berbuka dengan meminum air, dapat membasahi tubuh seperti halnya fungsi makanan, karena tubuh mengalami kekeringan cairan saat berpuasa sehingga apabila dibasahi dengan air akan sangat bermanfaat.

Dan ketahuilah wahai saudaraku muslimin, bahwa kurma memiliki berkah dan keistimewaan. Begitu juga dengan air sebagai zat vital dalam metabolisme tubuh. Wallaahu a’lam.

4. Apa yang Dibaca Ketika Berbuka ?

Adapun doa khusus yang terkait dengan berbuka puasa, menurut penelitian para ahli hadits, hanya satu yang shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka beliau mengatakan :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

[Dzahabazh-zhoma-u wab-talatil-‘uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allooh]

“Rasa haus telah pergi dan urat-urat telah terbasahi serta telah ditetapkan pahala insya Allah” (HR. Abu Dawud no. 2357, Baihaqi dalam Ash-Shughra no. 1424, Al-Hakim no. 1536, Ibnu Sunni no. 128, Nasa’i dalam Amalul-Yaum di Bab Maa Yaquulu ‘inda Afthara, dan Ad-Daruquthni Bab Al-Qiblatu lish-Shaaim no. 25; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil 4/39 no. 920).

Doa ini dibaca setelah selesai menyantap makanan berbuka (- perhatikan arti doa tersebut -). Adapun doa yang sering dibaca oleh sebagian kaum muslimin seperti : Allaahumma laka shumtu….dst. dan yang lain-lain; maka doa tersebut berasal dari hadits-hadits berstatus dl’aif. Maka selayaknya kita hanya memilih doa yang tsabit (tetap) berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

5. Makan Secara Berjama’ah

Disunnahkan berbuka secara berjama’ah dengan keluarga, rekan, atau kaum muslimin lainnya. Allah menurunkan keberkahan dengan banyaknya tangan di atas makanan.

عن وحشي بن حرب عن أبيه عن جده رضي الله عنه أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا يا رسول الله إنا نأكل ولا نشبع قال فلعلكم تفترقون قالوا نعم قال فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه

Dari Wakhsyi bin Harb, dari ayahnya, dari kakeknya radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Sesungguhnya para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallm : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tapi tidak merasa kenyang”. Beliau menjawab : “Barangkali kalian makan secara berpencar (sendiri-sendiri)”. Mereka menjawab : “Benar”. Maka beliau bersabda : “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian” (HR. Abu Dawud no. 3764; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 664. Lihat pula Riyadlush-Shaalihiin no. 747).

6. Memberi Makanan Orang yang Berbuka Puasa

Allah ta’ala telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang telah menyisihkan sebagian rizkinya secara ikhlash untuk memberi makan kepada orang yang berbuka puasa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

من فطر صائما كتب له مثل أجر الصائم لا ينقص من أجر الصائم شيء

“Barangsiapa yang memberi makanan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga” (HR. Ahmad no. 17074 dan 17085; At-Tirmidzi 807; Ibnu Majah no. 1746; dan Ibnu Hibban no. 3429; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah 2/85 no. 1428).

Dan apabila ada seorang muslim yang berpuasa dan ia mendapat undangan dari saudaranya, maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

إذا دعا أحدكم أخاه فليجب عرسا كان أو نحوه

“Bila salah seorang dari kalian mengundang saudaranya, maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut, apakah (undangan tersebut adalah) undangan nikah atau semisalnyai” (HR. Muslim no. 1429 dan selainnya).

Dan hal ini tentunya dikecualikan apabila dalam undangan tersebut mengandung unsur kemaksiatan atau terdapat unsur kemaksiatan (seperti nyanyi-nyanyian/musik, ikhtilath, dan lain-lain).

Bagi yang diundang dan/atau yang diberikan makanan berbuka dari saudaranya, maka hendaklah ia mendoakan saudaranya tersebut dengan kebaikan. Beberapa doa yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diantaranya:

اللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِي

[Alloohumma ath’im man ath’amanii wa asqi man saaqoonii]

“Ya Allah, berikanlah makanan kepada orang yang memberiku makan, dan berikanlah minuman kepada orang yang memberiku minuman” (HR. Muslim no. 2055 dari Al-Miqdad).

اللّهُـمَّ بارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْـتَهُمْ، وَاغْفِـرْ لَهُـمْ وَارْحَمْهُمْ

[Alloohumma baariklahum fiiimaa rozaqtahum wagh-firlahum war-hamhum]

“Ya Allah, berikanlah barakah apa yang Engkau rizkikan kepada mereka, ampunilah dan belas-kasihanilah mereka” (HR. Muslim 2042 dari Abdullah bin Busr).



Abu Al-Jauzaa'
http://myquran.org/forum/index.php/topic,26458.15.html

Bagikan

Jangan lewatkan

Berbuka Puasa
4 / 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Diberdayakan oleh Blogger.